Pembelajaran Berdiferensiasi
Sebagai seorang guru atau pendidik hal yang perlu dipahami adalah setiap siswa adalah unik dan memiliki karakternya sendiri, yang satu berbeda dengan yang lain dan guru tidak dapat menyamaratakan semua siswa. Menjadi hal yang penting bagi guru untuk bisa memahami perbedaan para murid ini. Coba bayangkan suasana kelas anda, apakah anda menemukan ada beberapa siswa yang suka bekerja sendirian? ada juga siswa yang lebih suka bergerak kesana kemari ketika dalam pembelajaran di kelas? atau ada siswa yang selalu ingin menjadi pusat perhatian.
Sebagai seorang guru, tentu kita akan terus diperhadapkan suasana kelas yang demikian karena setiap siswa adalah unik. Untuk memahami hal tersebut guru perlu melakukan pembelajaran yang berdiferensiasi, artinya pembelajaran yang bisa mencakup gaya belajar siswa secara umum.
Disini kita akan membahas secara singkat apa yang dimaksud pembelajaran berdiferensiasi itu. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian
keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang
berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang
terkait dengan:
- Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang
“mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai
tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di
kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang
prosesnya.
- Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan
secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan
tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
- Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari
proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan
murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah
lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
- Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar
muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk
memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu
menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta
penilaian yang berbeda.
- Manajemen kelas yang
efektif. Bagaimana guru
menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya
fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin
melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara
efektif.
Dalam pembelajaran berdiferensiasi sebagai guru kita perlu memetakan kebutuhan belajar siswa. Menurut Tomlinson (2001) dalam bukunya How to
Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita
dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3
aspek. Ketiga aspek tersebut adalah:
- Kesiapan belajar (readiness) murid
- Minat murid
- Profil belajar murid
Pembelajaran Sosial Emosional
Setelah memahami pembelajaran berdiferensiasi maka kita akan belajar juga untuk pembelajaran emosi sosial siswa, hal ini juga penting untuk dipahami oleh guru agar dapat memusatkan pembelajaran yang berpihak pada siswa. Pembelajaran sosial
dan emosional ini berisi keterampilan - keterampilan yang dibutuhkan anak untuk
dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga
untuk mengajarkan mereka menjadi orang yang baik.
Guru perlu memahami dan menerapkan pembelajaran
sosial dan emosional karena hal itu sangat penting untuk mempersiapkan murid
menjadi sukses dalam hidup, siswa mampu mengambil keputusan yang baik dan
bertanggung jawab, mampu memahami orang lain dan diri sendiri, sebagai guru
kita mengajarkan anak untuk bisa memahami lingkungan dan kita sebagai guru
mampu memahami anak secara utuh.
5 kompetensi sosial dan emosi:
- self-awarness
(kesadaran diri)
- social-awarness (pemahaman kesadaran sosial)
- relationship skills (kemampuan berhubungan)
- responsible decision-making(mampu membuat
keputusan yang bertanggung jawab)
- self-management (manajemen diri sendiri)
Coaching
Untuk mendukung pembelajaran yang berpusat kepada murid maka sebagai guru juga harus memiliki keterampilan lainnya yaitu kemampuan coaching. Coaching berbeda dengan mentoring, coaching berarti memusatkan perhatian kepada siswa/coachee ketika menemukan permasalahan dalam pembelajaran. Dalam proses coaching, murid
diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan
arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang
‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif
agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.
proses coaching merupakan
proses untuk mengaktifasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif
dalam dapat membuat murid melakukan metakognisi. Selain itu,
pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid
lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Yang akhirnya, murid dapat menemukan
potensi dan mengembangkannya.
International Coach Federation (ICF) memberikan acuan mengenai empat kelompok kompetensi dasar bagi seorang coach, yaitu:
1. Keterampilan membangun dasar proses coaching
2. Keterampilan membangun hubungan baik
3. Keterampilan berkomunikasi
4. Keterampilan memfasilitasi pembelajaran
Coaching dapat dilakukan dengan metode TIRTA yaitu; Tentukan tujuan, Identifikasi permasalahan, Rencana Aksi dan Tanggung jawab. Dalam melaksanakan coaching perlu melakukan langkah - langkah tersebut dengan mengajukan pertanyaan - pertanyaan pemantik yang memancing siswa/coachee untuk mengemukakan permasalahan dan menemukan jalan keluar serta menggali rasa tanggung jawab untuk melaksanakannya.
Untuk melakukan pembelajaran yang berpusat kepada murid maka perlu bisa memahami pembelajaran berdiferensiasi, emosi sosial dan coaching agar bisa mendukung apa yang menjadi tujuan pendidikan itu, yaitu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan
kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran
seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan
kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia
maupun anggota masyarakat.
Terima Kasih
Comments
Post a Comment