Aksi Nyata Modul 1.4 Mengenai Budaya Positif
Dengan kondisi pandemik yang sekarang dihadapi oleh seluruh negara dan terkhusus di negara Indonesia, maka model pendidikan mau tidak mau harus mengalami perubahan. Dari model pembelajaran tatap muka di sekolah menjadi pembelajaran daring dengan menggunakan teknologi yang tersedia. Perubahan model pembelajaran ini tentu saja tidak mudah dikarenakan para guru dipaksa untuk menguasai teknologi yang sedang berkembang dan harus bisa menyesuaikannya untuk digunakan dalam pembelajaran di kelas. Selain berdampak pada guru, model pembelajaran daring juga tentu saja memberikan dampak bagi para siswa, baik itu negatif maupun positif.
Memperhatikan hal tersebut maka, sebagai guru penggerak dan setelah mempelajari modul 1 mengenai nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, budaya positif maka menjadi tugas utama adalah mampu menerapkan ilmu atau materi yang sudah dipelajari kedalam dunia nyata atau dengan kata lain di kelas - kelas.
Filosofi Ki Hajar Dewantara adalah bahwa pendidikan itu berfokus kepada anak dan harus memperhatikan adab atau akhlak anak, dengan memperhatikan hal tersebut maka perlu adanya pembentukan dan pembiasaan budaya positif di lingkungan sekolah. Budaya positif ini bisa dimulai dengan membuat kesepakatan kelas antara siswa dan guru dan disepakati secara bersama - sama untuk melakukannya dengan harapan pada akhirnya kesadaran akan pentingnya budaya positif muncul dari dalam diri siswa sendiri.
Aksi nyata saya lakukan adalah ketika pembelajaran baru dimulai, mengajak siswa untuk membentuk kesepakatan bersama mengenai hal - hal dalam proses pembelajaran daring selama satu tahun pelajaran yang akan berjalan. Tentu saja sebagai guru, saya merasa bersemangat untuk memulai pembiasaan budaya positif ini dan tentu saja siswa akan merasa diperhatikan dan akan bisa mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan menyenangkan.
Dari hasil kesepakatan bersama - sama maka antara lain:
1. One voice only – satu sumber suara saja, artinya bila guru menjelaskan maka siswa diam dan mendengarkan atau bila salah satu siswa berbicara mengemukakan pendapat maka yang lain juga mendengarkan.
2. Being on time – tepat waktu untuk hadir di kelas, tepat waktu mengumpulkan tugas, tepat waktu mengerjakan PR
3. Respect each other – saling menghargai antar teman dan guru
4. Start everything with a prayer – memulai semua kegiatan dengan doa dan mengakhirinya dengan doa
5. Having fun and serious at the same time – serius saat pembelajaran namun juga bisa menyenangkan dalam pembelajaran
ketika membuat kesepakatan kelas usahakan supaya kesepakatan yang dibuat tidak terlalu banyak, antara tiga sampai delapan saja, supaya siswa mudah untuk melakukannya dan tidak terlalu banyak yang harus diingat untuk dilakukan.
Setelah kesepakan kelas dibuat, maka rencana selanjutnya adalah mensosialisasikannya dengan kepala sekolah dan rekan guru lainnya. Penyampaiannya dilakukan saat briefing pagi hari dewan guru sebelum melakukan proses pembelajaran.
Setelah itu tentu saja kesepakatan yang dibuat harus selalu diingatkan mungkin ditengah - tengah tahun pelajaran atau ketika siswa sudah mulai sedikit lupa akan kesepakatan yang telah dibuat. Mengapa hal ini harus terus dilakukan? Karena pembentukan budaya positif tidak bisa terjadi secara cepat atau instant namun harus melalui proses dan harus dilakukan secara kontinu atau berkelanjutan. Oleh karena itu diperlukan kerjasama dari semua pihak yang terlibat di lingkungan sekolah.
Melalui kesepakatan kelas yang dibuat diharapkan siswa bisa mengembangkan budaya positif di lingkungan sekolah dan siswa merasakan kebahagiaan dalam mengikuti proses pembelajaran. Tantangan dalam pelaksanaan aksi nyata adalah ketika menemui siswa yang kurang bisa bekerjasama dalam menerapkan kesepakatan kelas, misalnya: suka datang terlambat dalam zoom meeting di kelas atau misalnya menyela pembicaraan ketika guru menyampaikan materi atau ketika rekan siswa lainnya sedang berbicara. Langkah untuk mengatasi hambatan atau halangan yang dihadapi tentu saja kembali mengingatkan kepada siswa mengenai kesepakatan yang sudah dibuat, menegur secara halus dan personal.
Untuk perbaikan kedepan bila ternyata ada masukan atau saran dari para siswa tentu supaya pembelajaran di kelas bisa lebih baik dan guru bisa terus berkembang dengan tetap berpusat pada anak.
Perlu diingat bahwa budaya positif tidak bisa terjadi begitu saja dan diperlukan kerja keras dari seorang guru untuk membangun budaya positif itu dan kerjasama dengan semua pihak.
Tetap semangat para guru penggerak.
Guru Bergerak, Indonesia Maju!



Comments
Post a Comment