Demontrasi Kontekstual -Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran
Memasuki modul 3, topik yang saya
pelajari adalah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, sebagai
seorang guru tentu saja saya sering diperhadapkan pada situasi – situasi yang
menuntut saya sebagai guru harus mengambil keputusan yang sebaik – baiknya yang
mungkin berhubungan dengan siswa atau kehidupan sekolah. Misalnya salah satu
siswa saya tidak mencapai nilai KKM dalam mata pelajaran saya dan orangtuanya
menemui saya untuk meminta bantuan supaya nilainya dibuat tuntas atau mencapai
KKM, meski sudah menolak dengan cara halus namun si orang tua tetap memaksa dan
meninggalkan amplop di meja saya. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, bila
dihadapkan situasi seperti itu, tindakan dan keputusan apakah yang akan saya
ambil? Situasi seperti itu tentu menimbulkan dilema etika atau delima bujukan.
Dalam pembelajaran modul ini saya belajar memahami 4 paradigma
yang berkaitan dengan dilema etika, yaitu:
1. Individu lawan masyarakat (individu vs commumity)
Dalam paradigma ini
adanya pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah
kelompok yang lebih besar di mana individu itu sendiri juga merupakan bagian
dari kelompok tersebut. Selain itu bisa juga adanya konflik antara kepentingan
pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok
besar.
Dilema individu melawan
masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu
orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk yang lain, kelompok yang
lebih besar.
2.
Rasa keadilan lawan rasa
kasihan (justice vs mercy)
Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti
aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah
memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi,
dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.
3.
Kebenaran lawan kesetiaan
(truth vs loyalty)
Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi
nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita
perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau
bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan
informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi,
kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
4.
Jangka pendek lawan jangka
panjang (short terim vs long term)
Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah
diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat
ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di
level personal dan permasalahan sehari-hari, atau pada level yang lebih luas,
misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll.
Selanjutnya yang saya pelajari adalah dalam pengambilan
keputusan tersebut terdapat 3 prinsip, yaitu:
1.
Berpikir berbasis hasil
akhir (Ends-based thinking)
2.
Berpikir berbasis peraturan
(Rule-based thinking)
3.
Berpikir berbasis rasa
peduli (Care-based thinking)
Lalu hal yang paling penting selanjutnya adalah dalam
pengambilan keputusan terdapat 9 langkah, yaitu:
1.
Mengenali bahwa ada nilai –
nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini
2.
Menentukan siapa yang
terlibat dalam situasi ini
3.
Kumpulkan fakta – fakta yang
relevan dengan situasi ini
4.
Pengujian benar atau salah
5.
Pengujian paradigma benar
lawan benar
6.
Melakukan prinsip resolusi
7.
Investigasi opsi Trilema
8.
Buat keputusan
9.
Lihat lagi keputusan dan
refleksikan
Setelah mempelajari hal tersebut
tentu saja sebagai seorang guru saya harus merefleksikan hal – hal tersebut,
hal yang harus saya lakukan selanjutnya bila saya diperhadapkan pada situasi
dilema etika tentu saja saya harus memahami saya sedang berada diparadigma yang
mana, selanjutnya ketika akan membuat keputusan saya perlu mengingat kembali
langkah – langkah yang sudah saya pelajari dan saya sebutkan diatas. Tentu
bukan hal yang mudah karena saya harus berlatih dan membiasakan diri dengan
langkah – langkah tersebut sehingga dalam membuat keputusan saya tidak tergesa –
gesa.
Untuk dapat mengukur apakah
efektifitas pengambilan keputusan saya tentu saja bila saya sudah melewati 9
langkah tersebut dan melihat keputusan yang dibuat tidak menimbulkan efek yang
buruk bagi yang lain, untuk menjalani hal tersebut tentu saja saya butuh orang
lain yang akan membantu atau memberikan masukan kepada keputusan yang akan saya
ambil, dan biasanya saya akan meminta bantuan kepada rekan kerja yang sudah
berpengalaman sebagai seorang guru (guru senior ditempat saya mengajar) atau
saya dapat meminta bantuan kepada konselor sekolah yang selalu bisa memberikan
masukan yang terbaik.
Lalu bagaimana dan kira – kira mulai kapan saya bisa
melakukannya? Tentu saja saya berharap saya bisa melakukannya sesegera mungkin,
yang pasti tentu saja ketika saja sedang diperhadapkan pada situasi dilema
etika, saya tidak tau kapan situasi tersebut akan muncul dan bagaimana situasi
yang akan saya hadapi, namun bila saat itu muncul saya akan menerapkan hal –
hal yang sudah saya pelajari pada modul ini.
Demikianlah refleksi saya mengenai topik pembelajaran
mengenai pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Salam Guru
Penggerak. Guru Bergerak, Indonesia Maju.
Comments
Post a Comment